Video AI TikTok Kurang Diminati? CEO TikTok Ungkap Faktanya

HALUONE – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah cara kreator menghasilkan konten digital. Kini, siapa saja dapat membuat video menggunakan teknologi AI tanpa harus memiliki kamera profesional, studio produksi, atau kemampuan editing tingkat lanjut. Namun, di tengah meningkatnya penggunaan teknologi tersebut, muncul fakta menarik mengenai popularitas video AI TikTok.

CEO TikTok, Shou Zi Chew, mengungkapkan bahwa konten buatan AI ternyata belum mendominasi jumlah penayangan di platform media sosial tersebut. Padahal, teknologi AI generatif semakin canggih dan memungkinkan pembuatan video dalam waktu singkat dengan biaya jauh lebih rendah.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam DBS Asia Future Forward Conference di Singapura pada 12 Oktober 2026. Chew menjelaskan bahwa pengguna TikTok masih menunjukkan ketertarikan terhadap konten autentik yang menghadirkan kreativitas dan pengalaman manusia.

Lantas, apakah video AI TikTok benar-benar kurang diminati? Apakah algoritma TikTok membatasi konten buatan AI? Bagaimana peluang kreator yang menggunakan teknologi AI untuk menghasilkan video?

HALUONE akan membahas fakta, penjelasan, dan strategi yang perlu diketahui kreator agar dapat memanfaatkan perkembangan AI secara optimal.

Video AI TikTok Belum Mendominasi Penayangan, Ini Fakta dari CEO TikTok

Perkembangan AI generatif membuat proses produksi konten semakin mudah. Teknologi yang sebelumnya membutuhkan perangkat dan keterampilan khusus kini dapat digunakan untuk menghasilkan video hanya melalui instruksi teks, gambar, atau materi referensi.

Meski demikian, kemudahan produksi ternyata tidak selalu sejalan dengan besarnya perhatian penonton.

Porsi Penayangan Video AI Masih Satu Digit Rendah

Menurut Shou Zi Chew, video yang dihasilkan menggunakan AI hanya menyumbang persentase satu digit rendah dari keseluruhan penayangan TikTok.

Artinya, meskipun konten AI semakin banyak diproduksi, kontribusinya terhadap total penayangan platform tersebut masih relatif kecil.

Temuan ini memperlihatkan bahwa meningkatnya kemampuan teknologi tidak otomatis membuat semua konten yang dihasilkan menjadi populer.

Namun, ada hal penting yang perlu dipahami. Persentase penayangan tersebut tidak berarti seluruh video AI memiliki performa buruk. Data tersebut juga bukan hasil survei yang menunjukkan bahwa mayoritas pengguna TikTok menolak konten AI.

Angka yang disampaikan Chew menggambarkan proporsi penayangan secara keseluruhan, bukan keberhasilan atau kegagalan setiap video.

Mengapa Banyaknya Video AI Tidak Menjamin Penonton?

AI memungkinkan kreator menghasilkan banyak video dalam waktu singkat. Akan tetapi, jumlah konten yang dipublikasikan tidak selalu mencerminkan kualitas atau relevansinya bagi audiens.

Penonton tetap membutuhkan alasan untuk menyaksikan sebuah video, seperti mendapatkan informasi, hiburan, inspirasi, atau pengalaman yang menarik.

Video yang dibuat dengan teknologi canggih sekalipun berpotensi diabaikan apabila tidak menawarkan sesuatu yang bernilai.

Karena itu, keberhasilan konten TikTok tidak cukup dinilai dari teknologi pembuatannya. Kreator juga perlu memahami kebutuhan dan ketertarikan audiens.

Mengapa Konten Autentik Masih Lebih Diminati Pengguna TikTok?

Salah satu pesan penting dari pernyataan CEO TikTok adalah bahwa kreativitas manusia masih memiliki peran besar dalam industri konten digital.

Meskipun AI mampu menghasilkan visual realistis, konten yang menampilkan pengalaman dan ekspresi manusia tetap memiliki daya tarik tersendiri.

Pengalaman Nyata dan Kreativitas Manusia Masih Penting

Konten autentik dapat berupa pengalaman pribadi, ulasan produk berdasarkan penggunaan langsung, cerita kehidupan sehari-hari, hingga dokumentasi suatu peristiwa.

Jenis konten tersebut memberikan unsur pengalaman manusia yang tidak selalu dapat digantikan oleh video sintetis.

Sebagai contoh, video seseorang yang mencoba produk secara langsung dapat membantu penonton memahami kondisi sebenarnya. Sementara itu, video AI mungkin mampu menampilkan simulasi produk yang menarik, tetapi belum tentu memberikan bukti pengalaman penggunaan nyata.

Hal ini menunjukkan pentingnya kepercayaan dalam membangun hubungan antara kreator dan audiens.

video-AI-TikTok-2026

Apakah Video Buatan AI Kehilangan Sentuhan Manusia?

Tidak semua video AI kehilangan unsur kreativitas manusia. Teknologi AI tetap membutuhkan arahan, konsep, serta penilaian dari pembuatnya.

Seorang kreator dapat menggunakan AI untuk membuat animasi, ilustrasi, atau visual pendukung tanpa harus menghilangkan identitas personalnya.

Sebaliknya, konten yang sepenuhnya dihasilkan secara otomatis tanpa mempertimbangkan kebutuhan penonton berisiko terasa generik.

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar memilih antara AI dan manusia, melainkan bagaimana keduanya dapat digunakan untuk menghasilkan konten berkualitas.

Apakah Video AI TikTok Sulit Viral dan Masuk FYP?

Pertanyaan mengenai peluang video AI masuk For You Page atau FYP menjadi perhatian banyak kreator.

Pasalnya, sebagian pengguna mungkin menganggap bahwa video yang dibuat menggunakan AI akan lebih sulit memperoleh jangkauan dibandingkan konten hasil rekaman langsung.

Namun, anggapan tersebut perlu diperiksa secara hati-hati.

Apakah Algoritma TikTok Membatasi Video AI?

Pernyataan CEO TikTok mengenai rendahnya porsi penayangan video AI tidak dapat dijadikan bukti bahwa algoritma TikTok sengaja membatasi distribusi konten tersebut.

Ada perbedaan antara jumlah penayangan secara keseluruhan dan mekanisme rekomendasi yang menentukan video mana yang ditampilkan kepada pengguna.

Untuk menyimpulkan adanya pembatasan algoritma, diperlukan informasi tambahan mengenai kebijakan platform, distribusi konten, serta data performa yang relevan.

Karena itu, kreator tidak perlu langsung menganggap penggunaan AI sebagai penyebab rendahnya jumlah penayangan.

Faktor yang Perlu Diperhatikan Kreator

Agar video AI TikTok memiliki peluang menarik perhatian audiens, kreator dapat memperhatikan beberapa aspek berikut:

  1. Pembukaan video yang menarik. Sampaikan topik atau manfaat utama sejak awal.
  2. Relevansi konten. Sesuaikan pembahasan dengan kebutuhan dan minat target penonton.
  3. Kualitas visual dan narasi. Pastikan gambar, suara, dan alur cerita mudah dipahami.
  4. Keaslian informasi. Hindari menampilkan kejadian sintetis seolah-olah merupakan peristiwa nyata.
  5. Evaluasi performa. Gunakan analitik TikTok untuk memahami respons penonton.

Tidak ada strategi yang dapat menjamin video masuk FYP. Namun, pendekatan berbasis kualitas dan evaluasi dapat membantu kreator mengembangkan konten secara lebih terarah.

Teknologi Seedance AI Bisa Memangkas Biaya Produksi Video TikTok

Selain membahas preferensi penonton, Shou Zi Chew juga menyoroti perubahan besar dalam industri produksi video digital.

Menurutnya, teknologi AI memungkinkan perusahaan dan kreator menghasilkan materi promosi dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan metode produksi konvensional.

Apa Itu Seedance AI dari ByteDance?

Seedance merupakan teknologi AI pembuat video yang dikembangkan ByteDance, perusahaan induk TikTok.

Teknologi ini dapat memanfaatkan gambar produk dan video referensi untuk menghasilkan materi visual baru. Dengan kemampuan tersebut, perusahaan dapat melakukan eksperimen terhadap berbagai konsep iklan tanpa harus selalu menjalani proses produksi tradisional.

Sebagai contoh, sebuah UMKM yang menjual produk fashion dapat memanfaatkan AI untuk membuat variasi visual promosi berdasarkan foto produk.

Namun, hasil video tetap perlu diperiksa untuk memastikan bentuk, warna, dan karakteristik produk tidak menyesatkan calon pembeli.

TikTok juga telah mengintegrasikan model Dreamina Seedance ke dalam ekosistem TikTok Symphony untuk mendukung kebutuhan pembuatan materi kreatif bagi pengiklan.

Biaya Produksi Video AI Dibandingkan Video Tradisional

Dalam konferensi tersebut, Chew memberikan ilustrasi bahwa pembuatan satu video iklan secara tradisional dapat membutuhkan biaya sekitar US$100 hingga US$1.000 atau lebih.

Sementara itu, penggunaan teknologi AI seperti Seedance berpotensi menekan biaya menjadi sekitar US$1 hingga US$10 untuk contoh produksi tertentu.

Perbedaan tersebut memperlihatkan potensi efisiensi yang signifikan, terutama bagi bisnis yang membutuhkan banyak variasi materi promosi.

Meski demikian, angka tersebut bukan jaminan biaya untuk seluruh proyek. Pengeluaran aktual tetap dapat dipengaruhi oleh kebutuhan revisi, akses layanan, dan kompleksitas produksi.

Strategi Membuat Video AI TikTok yang Menarik bagi Penonton

Bagi kreator yang ingin memanfaatkan teknologi AI, informasi dari CEO TikTok seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti menggunakan kecerdasan buatan.

HALUONE menilai pendekatan yang lebih tepat adalah menjadikan AI sebagai alat bantu produksi sambil mempertahankan nilai kreatif dan keaslian informasi.

Gunakan AI sebagai Alat Bantu Kreativitas

AI dapat dimanfaatkan dalam berbagai tahapan pembuatan konten, mulai dari mencari ide, menyusun naskah, membuat storyboard, hingga menghasilkan visual pendukung.

Sebagai contoh, kreator edukasi dapat menggunakan AI untuk memvisualisasikan konsep ilmiah yang sulit direkam secara langsung.

Sementara itu, kreator bisnis dapat menggunakannya untuk membuat variasi iklan dan menguji pendekatan komunikasi yang berbeda.

Kuncinya adalah memastikan teknologi mendukung tujuan konten, bukan sekadar digunakan karena sedang populer.

Gabungkan Konten AI dengan Pengalaman Nyata

Salah satu strategi yang layak dicoba adalah menggabungkan hasil produksi AI dengan materi autentik.

Misalnya, kreator dapat menggunakan rekaman produk asli, kemudian menambahkan animasi AI untuk menjelaskan fitur tertentu.

Pendekatan serupa dapat diterapkan pada konten perjalanan, edukasi, kuliner, dan pemasaran digital.

Penonton tetap memperoleh informasi berdasarkan pengalaman nyata, sementara AI membantu meningkatkan kualitas penyajiannya.

Evaluasi Performa Video Secara Berkala

Kreator sebaiknya tidak hanya memperhatikan jumlah video yang berhasil dipublikasikan.

Perhatikan juga metrik seperti waktu tonton, tingkat penyelesaian video, interaksi, serta respons audiens.

Bandingkan beberapa format video dengan topik dan target penonton yang relatif serupa. Dengan demikian, kreator dapat memahami pendekatan mana yang lebih efektif bagi akunnya.

Hasil pengujian tersebut lebih bermanfaat daripada menganggap semua video AI pasti berhasil atau pasti gagal.

Masa Depan Video AI TikTok, Apakah Kreator Manusia Akan Tergantikan?

Kemajuan teknologi AI memang berpotensi mengubah cara industri kreatif bekerja. Proses yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga dan waktu kini dapat diselesaikan dengan bantuan perangkat otomatis.

Namun, perkembangan tersebut belum berarti kreativitas manusia akan kehilangan relevansinya.

Shou Zi Chew membandingkan kemungkinan perkembangan video AI dengan penggunaan perangkat penyuntingan foto. Teknologi dapat memperluas kemampuan kreator tanpa harus sepenuhnya menggantikan kontribusi manusia.

Dalam jangka panjang, AI berpotensi menjadi bagian umum dari proses produksi video, mulai dari perencanaan hingga penyuntingan.

Meski demikian, kreativitas, penilaian, dan pemahaman terhadap kebutuhan audiens tetap diperlukan.

Transparansi Konten AI Semakin Penting

Perkembangan video sintetis juga membawa tantangan baru terkait keaslian informasi.

TikTok telah memperkuat upaya transparansi konten AI, termasuk penggunaan label konten buatan AI dan pengembangan teknologi pendeteksian spam berbasis AI.

Pada Juli 2026, TikTok mengumumkan pengujian peningkatan sistem deteksi terhadap akun yang menyebarkan spam AI, khususnya pada topik sensitif seperti politik, keuangan, dan kesehatan.

Karena itu, kreator perlu memperhatikan ketentuan pelabelan konten AI dan menghindari pembuatan video yang berpotensi menyesatkan.

FAQ Seputar Video AI TikTok

Apakah video AI TikTok bisa viral?

Bisa. Video AI tetap memiliki peluang mendapatkan banyak penayangan apabila menarik dan relevan bagi audiens. Namun, penggunaan AI tidak menjamin sebuah video akan viral.

Apakah TikTok membatasi video AI?

Pernyataan CEO TikTok mengenai rendahnya porsi penayangan video AI bukan bukti bahwa algoritma TikTok membatasi semua konten buatan AI. Platform juga memiliki kebijakan tersendiri mengenai konten menyesatkan dan spam.

video-AI-TikTok

Mengapa konten autentik masih diminati?

Konten autentik dapat menghadirkan pengalaman nyata, ekspresi manusia, dan informasi yang membangun kepercayaan. Unsur tersebut tetap memiliki nilai bagi penonton di tengah meningkatnya produksi konten sintetis.

Apakah AI bisa digunakan untuk membuat iklan TikTok?

Bisa. Teknologi seperti Seedance dapat membantu menghasilkan materi video iklan berdasarkan gambar produk dan referensi visual. Hasilnya tetap perlu diperiksa agar sesuai dengan produk yang dipromosikan.

Video AI TikTok Berkembang, tetapi Konten Autentik Tetap Penting

Perkembangan video AI TikTok menunjukkan bahwa kecerdasan buatan semakin berperan dalam industri kreatif. Namun, pernyataan CEO TikTok, Shou Zi Chew, memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi belum otomatis membuat konten AI mendominasi penayangan.

Bagi kreator dan pelaku bisnis, pelajaran terpenting adalah menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengabaikan kualitas, kreativitas, dan kepercayaan audiens.

Teknologi dapat membantu menghasilkan video lebih cepat, tetapi nilai sebuah konten tetap ditentukan oleh manfaat yang diterima penonton.

Demikian pembahasan dari HALUONE mengenai perkembangan video AI TikTok dan masa depan kreativitas digital. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda yang ingin memahami sekaligus memanfaatkan teknologi AI secara lebih efektif.

Salam teknologi, HALUONE

Leave a Comment