Kasus influenza A melonjak menjadi perhatian masyarakat setelah aktivitas influenza kembali meningkat di Indonesia. Salah satu yang banyak ditemukan adalah Influenza A(H1N1)pdm09, virus yang mungkin mengingatkan sebagian orang pada pandemi influenza 2009.
Namun, peningkatan tersebut tidak berarti Indonesia sedang menghadapi pandemi baru. Data surveilans Kementerian Kesehatan menunjukkan proporsi positif influenza sempat meningkat, tetapi tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada dalam kategori rendah dan situasi dinilai terkendali.
Meski demikian, influenza tidak seharusnya dianggap sekadar pilek biasa. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala cukup berat dan berisiko menyebabkan komplikasi, khususnya pada bayi, anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
HALUONE merangkum informasi penting mengenai kondisi influenza A saat ini, gejala yang perlu dikenali, risiko pada anak, tanda bahaya hingga cara mencegah penularannya.
Kasus Influenza A Melonjak, Apa yang Sedang Terjadi?
Data surveilans Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya kenaikan proporsi spesimen positif influenza pada September 2026.
Dalam laporan hingga 12 September 2026, proporsi influenza pada minggu ke-35 meningkat menjadi sekitar 38 persen dari 22 persen pada minggu sebelumnya. Dari 175 spesimen yang diperiksa, terdapat 66 hasil positif influenza.
Sebagian besar hasil positif tersebut merupakan Influenza A(H1N1)pdm09, yakni 63 kasus. Dua lainnya merupakan A(H3N2) dan satu kasus Influenza B/Victoria.
Data tersebut perlu dibaca dalam konteks surveilans. Angka itu merupakan hasil pemeriksaan spesimen yang masuk dalam pemantauan, bukan berarti 38 persen seluruh penduduk Indonesia terkena influenza.
Selain itu, Kemenkes menyatakan tingkat aktivitas influenza masih rendah dan peningkatan tersebut masih sesuai dengan pola influenza musiman di Indonesia.
Data berikutnya juga menunjukkan kondisi dapat berubah dari minggu ke minggu. Karena itu, istilah “melonjak” lebih tepat dipahami sebagai peningkatan pada indikator surveilans tertentu, bukan sebagai tanda bahwa Indonesia sedang mengalami pandemi baru.
Apa Itu Influenza A dan H1N1pdm09?
Influenza adalah infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan, termasuk hidung, tenggorokan dan paru-paru.
Virus influenza terdiri dari beberapa tipe. Influenza A merupakan salah satunya dan dapat dikelompokkan lagi berdasarkan dua protein pada permukaan virus, yakni hemaglutinin atau H dan neuraminidase atau N.
Dari sinilah muncul istilah seperti H1N1 dan H3N2.
Salah satu yang saat ini banyak terdeteksi adalah A(H1N1)pdm09. Virus tersebut merupakan turunan virus yang menyebabkan pandemi influenza pada 2009.
Akan tetapi, H1N1pdm09 bukan virus baru. Virus tersebut kemudian menjadi bagian dari influenza musiman dan terus dipantau bersama virus influenza lainnya.
Karena itu, ditemukannya H1N1pdm09 saat ini tidak dengan sendirinya menunjukkan munculnya pandemi baru.
Mengapa Kasus Influenza A Bisa Meningkat?
Indonesia memiliki karakteristik berbeda dari negara dengan empat musim. Influenza dapat bersirkulasi sepanjang tahun dan aktivitasnya dapat naik-turun pada periode tertentu.
Perubahan cuaca dan kondisi lingkungan dapat ikut berhubungan dengan pola penyakit pernapasan. Selain itu, penularan lebih mudah terjadi ketika banyak orang berinteraksi dalam jarak dekat.
Sekolah, kantor, rumah, asrama dan transportasi umum merupakan contoh lingkungan di mana virus pernapasan berpotensi berpindah antarmanusia.
Virus influenza terutama menyebar melalui partikel atau percikan pernapasan yang dikeluarkan penderita ketika batuk, bersin, berbicara atau bernapas.
Inilah sebabnya peningkatan kasus dalam suatu komunitas dapat berlangsung relatif cepat ketika banyak orang yang terinfeksi tetap beraktivitas dan melakukan kontak dekat dengan orang lain.

Gejala Influenza A yang Perlu Dikenali
Gejala influenza biasanya muncul relatif cepat dan dapat terasa lebih berat dibandingkan selesma.
Beberapa gejala Influenza A yang perlu diperhatikan meliputi:
- demam yang dapat muncul mendadak;
- menggigil;
- batuk, termasuk batuk kering;
- sakit atau rasa tidak nyaman pada tenggorokan;
- pilek atau hidung tersumbat;
- sakit kepala;
- nyeri dan pegal pada tubuh;
- tubuh lemas atau kelelahan;
- penurunan nafsu makan.
Tidak setiap penderita akan mengalami seluruh gejala tersebut.
Tingkat keparahannya juga dapat berbeda antara satu orang dengan lainnya. Sebagian penderita dapat mengalami penyakit relatif ringan, sedangkan kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Apa Bedanya Influenza A dan Flu Biasa?
Dalam percakapan sehari-hari, influenza sering disebut sebagai “flu”. Hal tersebut terkadang membuat influenza disamakan dengan selesma atau common cold.
Padahal keduanya tidak persis sama.
Influenza cenderung memiliki onset lebih mendadak. Seseorang dapat mengalami demam, nyeri badan, kelelahan dan batuk yang cukup mengganggu dalam waktu relatif cepat.
Sementara selesma biasanya menimbulkan gejala yang lebih ringan dan berkembang secara lebih bertahap.
Namun, mengenali penyakit hanya berdasarkan gejala juga memiliki keterbatasan.
Influenza A dan COVID-19 Bisa Memiliki Gejala Mirip
Demam, batuk, sakit tenggorokan, kelelahan dan beberapa keluhan pernapasan lainnya tidak hanya terjadi pada influenza.
COVID-19 maupun infeksi saluran pernapasan lainnya dapat menghasilkan gejala yang tumpang tindih.
Karena itu, seseorang tidak sebaiknya menentukan sendiri bahwa dirinya pasti terkena Influenza A hanya berdasarkan gejala atau karena sedang banyak berita mengenai penyakit tersebut.
Dalam situasi tertentu, tenaga kesehatan dapat mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut untuk membantu mengetahui penyebab infeksi.
Apakah Influenza A Berbahaya?
Influenza A tidak selalu menyebabkan penyakit berat. Banyak penderita dapat pulih dengan perawatan suportif dan istirahat yang cukup.
Namun, influenza juga tidak boleh dianggap remeh.
Pada kelompok tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi seperti pneumonia dan gangguan pernapasan. Influenza juga dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah dimiliki seseorang.
Pada anak dengan faktor risiko, komplikasi yang dilaporkan dapat mencakup pneumonia, perburukan asma, miokarditis hingga gangguan neurologis seperti ensefalopati.
Karena itulah perhatian sebaiknya diarahkan bukan hanya pada apakah seseorang positif influenza, tetapi juga pada kondisi klinis dan faktor risikonya.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Influenza Berat?
Tidak semua orang mempunyai risiko yang sama.
Kelompok yang membutuhkan perhatian lebih antara lain anak kecil, khususnya bayi dan balita, lansia, ibu hamil, orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh serta penderita penyakit kronis.
Pada anak, risiko komplikasi juga perlu diperhatikan pada mereka yang memiliki asma, penyakit jantung, diabetes, gangguan neurologis maupun kondisi kronis lainnya.
Data surveilans Kemenkes pada September 2026 juga menunjukkan kelompok usia 0–4 tahun termasuk kelompok yang banyak ditemukan mengalami influenza.
Influenza A pada Anak Perlu Mendapat Perhatian
Orang tua perlu memberikan perhatian khusus ketika influenza menyerang anak.
Selain karena anak kecil termasuk kelompok rentan, mereka belum tentu mampu menjelaskan keluhan yang dirasakan secara jelas.
Karena itu, perubahan perilaku anak dapat menjadi petunjuk penting.
Orang tua tidak hanya perlu memperhatikan angka suhu tubuh. Perhatikan apakah anak masih berinteraksi seperti biasa, apakah masih dapat minum, bagaimana pola pernapasannya, dan apakah masih buang air kecil.
Tanda Bahaya Influenza A pada Anak
Sebagian besar influenza tidak otomatis membutuhkan rawat inap. Namun, ada sejumlah tanda yang tidak boleh diabaikan.
Anak perlu mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami kondisi yang mengkhawatirkan, terutama:
Sulit dibangunkan atau sangat lemas
Anak yang sedang demam memang dapat lebih banyak tidur. Namun, kondisi menjadi mengkhawatirkan apabila anak sulit dibangunkan, responsnya menurun atau terlihat sangat lemah.
Tidak mampu minum
Nafsu makan dapat menurun ketika sakit. Kemampuan minum justru menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan karena kekurangan cairan dapat menyebabkan dehidrasi.
Jarang buang air kecil
Frekuensi buang air kecil dapat membantu orang tua memperkirakan kecukupan cairan anak. Penurunan drastis perlu mendapatkan perhatian.
Napas cepat atau kesulitan bernapas
Anak yang tampak bekerja keras untuk bernapas, mengalami sesak atau napasnya jauh lebih cepat dari biasanya perlu segera dievaluasi.
Bibir atau kulit tampak kebiruan
Perubahan warna menjadi kebiruan merupakan tanda bahaya dan membutuhkan pertolongan medis segera.
Kejang atau perubahan kesadaran
Kejang, penurunan kesadaran dan anak yang sulit dibangunkan merupakan kondisi yang tidak sebaiknya ditunggu membaik sendiri.
Cara Memantau Anak dengan Influenza A di Rumah
Ada tiga hal sederhana yang dapat menjadi perhatian orang tua: aktivitas, asupan dan output.
Pertama, perhatikan aktivitas. Apakah setelah demam berkurang anak kembali merespons, berbicara atau bermain seperti biasanya?
Kedua, perhatikan asupan, terutama cairan. Pastikan anak tetap mampu minum sesuai toleransinya.
Ketiga, perhatikan output atau buang air kecil. Frekuensi yang jauh berkurang dapat menjadi salah satu petunjuk bahwa anak kekurangan cairan.
Jika muncul tanda bahaya atau kondisi anak memburuk, jangan mengandalkan pemantauan di rumah saja.
Influenza A Sembuh Berapa Lama?
Durasi penyakit dapat berbeda pada setiap penderita.
Berdasarkan penjelasan dokter dalam salah satu sumber yang dihimpun HALUONE, gejala dapat mencapai puncaknya sekitar hari keempat hingga kelima. Proses pemulihan pada sebagian penderita dapat berlangsung lebih dari dua minggu.
Batuk atau rasa lelah juga dapat bertahan meskipun keluhan utama sudah mulai membaik.
Karena itu, jangan memaksakan aktivitas ketika tubuh belum pulih sepenuhnya.
Anak Terkena Influenza, Kapan Boleh Kembali Sekolah?
Anak yang sedang mengalami gejala influenza sebaiknya beristirahat di rumah.
Selain membantu pemulihan, hal ini mengurangi kemungkinan virus menyebar kepada teman sekolah, guru maupun orang lain.
Salah satu patokan yang disebut dalam sumber adalah anak sebaiknya sudah bebas demam setidaknya 24 jam tanpa menggunakan obat penurun panas dan kondisi keseluruhannya telah membaik sebelum kembali beraktivitas.
Cara Mencegah Penularan Influenza A
Di tengah perhatian terhadap kasus influenza A yang meningkat, langkah pencegahan tetap relevan.
Biasakan mencuci tangan, terapkan etika batuk dan bersin, hindari kontak dekat ketika sedang sakit, serta pertimbangkan penggunaan masker ketika mengalami gejala atau berada dalam kondisi yang meningkatkan risiko penularan.
Penderita sebaiknya beristirahat di rumah dan tidak memaksakan diri datang ke sekolah, kantor atau tempat ramai.
Tidur cukup, aktivitas fisik sesuai kondisi dan pola makan bergizi juga membantu menjaga kesehatan tubuh secara umum.
Perlukah Vaksin Influenza?
Vaksinasi menjadi salah satu upaya pencegahan influenza.
IDAI dalam sumber yang dihimpun HALUONE merekomendasikan vaksin influenza setiap tahun bagi anak mulai usia enam bulan.
Vaksin tidak berarti seseorang pasti tidak akan pernah terkena influenza. Salah satu tujuan penting vaksinasi adalah membantu mengurangi risiko penyakit berat dan komplikasi.
Vaksin influenza perlu diperbarui karena virus influenza terus mengalami perubahan dan galur yang beredar dapat berubah dari waktu ke waktu.
Untuk kelompok dengan kondisi medis tertentu, keputusan mengenai vaksinasi dapat dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Kasus Influenza A Meningkat, Waspada Tanpa Perlu Panik
Peningkatan proporsi positif influenza di Indonesia memang perlu menjadi perhatian. Influenza A(H1N1)pdm09 juga menjadi subtipe yang dominan dalam sejumlah hasil surveilans terbaru.
Namun, konteksnya tidak boleh dihilangkan. Kementerian Kesehatan masih mengategorikan tingkat aktivitas influenza nasional sebagai rendah dan situasi terkendali.
H1N1pdm09 pun bukan virus baru. Virus tersebut telah menjadi bagian dari influenza musiman setelah pandemi 2009.
Hal terpenting bagi masyarakat adalah mengenali gejala, mengurangi risiko penularan, memperhatikan kelompok rentan dan memahami tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis.
Bagi orang tua, jangan hanya terpaku pada demam. Kemampuan anak bernapas, minum, buang air kecil dan berinteraksi dapat memberikan informasi penting mengenai kondisinya.
Dengan informasi yang tepat, kabar mengenai kasus influenza A melonjak dapat disikapi dengan kewaspadaan yang proporsional, bukan kepanikan.
Tetap jaga kesehatan, terapkan kebiasaan pencegahan penularan, dan jangan menunda mencari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya.
Salam sehat,
HALUONE