HALUONE – Kerja sama swap BI dan China menjadi salah satu topik ekonomi yang banyak diperbincangkan dalam beberapa hari terakhir. Langkah strategis yang dilakukan Bank Indonesia (BI) bersama People’s Bank of China (PBOC) di Shanghai dinilai dapat membuka babak baru dalam hubungan ekonomi kedua negara, sekaligus memperkuat posisi rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di tengah dominasi dolar Amerika Serikat dalam perdagangan internasional, Indonesia mulai memperluas opsi transaksi lintas negara melalui penggunaan mata uang lokal. Kerja sama swap BI dan China ini bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, meningkatkan efisiensi perdagangan, dan mengurangi ketergantungan terhadap satu mata uang global.
Lalu, apa sebenarnya kerja sama swap BI dan China? Mengapa kebijakan ini dianggap penting bagi rupiah, dunia usaha, hingga UMKM? Berikut ulasan lengkapnya.
Apa Itu Kerja Sama Swap BI dan China?
Kerja sama swap BI dan China merujuk pada penguatan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara Bank Indonesia dan People’s Bank of China.
Secara sederhana, currency swap adalah kesepakatan antara dua bank sentral untuk saling menyediakan likuiditas dalam mata uang masing-masing. Dalam konteks Indonesia dan China, BI dapat memperoleh akses terhadap renminbi (RMB), sementara PBOC dapat memperoleh akses terhadap rupiah apabila diperlukan.
Mekanisme ini berfungsi sebagai jaring pengaman keuangan yang membantu menjaga stabilitas pasar ketika terjadi gejolak ekonomi global atau tekanan terhadap nilai tukar.
Kerja sama swap BI dan China atau semacam ini bukan hal baru. Indonesia dan China telah menjalin hubungan swap mata uang selama bertahun-tahun. Namun, pembaruan yang dilakukan pada Juni 2026 menunjukkan komitmen kedua negara untuk memperdalam kerja sama ekonomi dan keuangan yang semakin strategis.
Mengapa Kerja Sama Ini Menjadi Penting?
China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia. Nilai perdagangan kedua negara pada tahun 2025 mencapai sekitar USD 154,5 miliar, angka yang menunjukkan betapa eratnya hubungan ekonomi antara Jakarta dan Beijing.
Selama ini sebagian besar transaksi perdagangan dilakukan menggunakan dolar AS sebagai mata uang perantara. Artinya, eksportir maupun importir harus melakukan konversi dari rupiah ke dolar, kemudian dari dolar ke renminbi atau sebaliknya.
Proses tersebut menimbulkan beberapa konsekuensi:
- Biaya transaksi yang lebih tinggi.
- Risiko fluktuasi kurs dolar.
- Ketergantungan terhadap likuiditas dolar global.
- Tekanan tambahan terhadap permintaan dolar domestik.
Melalui kerja sama swap dan penggunaan mata uang lokal, sebagian transaksi dapat dilakukan langsung menggunakan rupiah dan renminbi tanpa harus melalui dolar AS.
Isi Kesepakatan Terbaru BI dan PBOC di Shanghai
Kerja sama yang ditandatangani pada 11 Juni 2026 tidak hanya mencakup perpanjangan BCSA. Ada beberapa komponen penting yang menjadi bagian dari paket kerja sama tersebut.
1. Penguatan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA)
BCSA menjadi fondasi utama Kerja sama swap BI dan China.
Tujuan utamanya adalah:
- Menjaga stabilitas pasar keuangan.
- Memastikan ketersediaan likuiditas.
- Mengurangi dampak gejolak eksternal.
- Meningkatkan kepercayaan pasar terhadap sistem keuangan kedua negara.
Dengan adanya fasilitas ini, kedua bank sentral memiliki instrumen tambahan untuk menjaga stabilitas ekonomi jika terjadi tekanan global.
2. Perluasan Local Currency Transaction (LCT)
Selain swap mata uang, BI dan PBOC juga memperluas skema Local Currency Transaction (LCT).
LCT memungkinkan pelaku usaha melakukan transaksi perdagangan menggunakan mata uang lokal masing-masing, yaitu rupiah dan renminbi.

Manfaat LCT antara lain:
- Mengurangi biaya konversi mata uang.
- Menekan risiko nilai tukar.
- Mempermudah transaksi lintas negara.
- Meningkatkan efisiensi perdagangan.
Menariknya, kerja sama ini kini juga diperluas hingga mencakup Hong Kong, yang merupakan salah satu pusat keuangan terbesar di Asia.
3. Pembentukan Renminbi Clearing Arrangement
Salah satu perkembangan penting lainnya adalah pembentukan Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia.
Sistem ini berfungsi sebagai jalur kliring atau penyelesaian transaksi renminbi yang lebih cepat dan efisien.
Dengan adanya infrastruktur ini:
- Bank dan perusahaan lebih mudah mengakses likuiditas RMB.
- Transaksi perdagangan menjadi lebih cepat.
- Ketergantungan terhadap sistem pembayaran berbasis dolar dapat dikurangi.
4. Perluasan QRIS Lintas Batas
Selain aspek makro ekonomi, kerja sama ini juga menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung melalui pengembangan QRIS Cross Border.
Saat ini integrasi tersebut telah menghubungkan:
- 191 penyedia layanan pembayaran di China.
- 24 penyedia layanan pembayaran di Indonesia.
Langkah ini membuka peluang besar bagi sektor pariwisata, perdagangan ritel, dan UMKM.
Bagaimana Kerja Sama Ini Membantu Memperkuat Rupiah?
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah kerja sama swap BI dan China dapat memperkuat rupiah.
Jawabannya adalah ya, meskipun dampaknya tidak terjadi secara instan.
Mengurangi Permintaan Dolar
Ketika sebagian transaksi perdagangan Indonesia-China menggunakan rupiah dan renminbi secara langsung, kebutuhan terhadap dolar AS akan berkurang.
Semakin kecil kebutuhan dolar untuk transaksi perdagangan, semakin ringan tekanan terhadap pasar valuta asing domestik.
Menurunkan Risiko Volatilitas
Ketergantungan yang terlalu besar pada satu mata uang membuat suatu negara lebih rentan terhadap perubahan kebijakan negara penerbit mata uang tersebut.
Dengan memperluas penggunaan mata uang lokal, Indonesia memperoleh fleksibilitas yang lebih besar dalam menghadapi gejolak global.
Menambah Instrumen Stabilitas
BCSA dan LCT memberikan opsi tambahan bagi otoritas moneter untuk menjaga kestabilan sistem keuangan.
Meskipun tidak membuat rupiah kebal terhadap krisis global, instrumen ini dapat menjadi bantalan yang membantu mengurangi tekanan eksternal.
Apakah Ini Bentuk Dedolarisasi?
Banyak pihak mengaitkan Kerja sama swap BI dan China ini dengan istilah dedolarisasi.
Namun sebenarnya langkah yang dilakukan Indonesia lebih tepat disebut sebagai diversifikasi transaksi internasional.
Dolar AS masih menjadi:
- Mata uang cadangan utama dunia.
- Instrumen perdagangan internasional terbesar.
- Acuan dalam banyak transaksi keuangan global.
Indonesia juga masih menyimpan sebagian besar cadangan devisanya dalam bentuk dolar AS.
Karena itu, tujuan utama kerja sama BI dan China bukan untuk menggantikan dolar, melainkan memberikan alternatif yang lebih efisien dalam transaksi dengan mitra dagang utama.
Diversifikasi seperti ini merupakan langkah yang lazim dilakukan oleh negara-negara dengan volume perdagangan internasional yang besar.
Dampak Positif bagi Dunia Usaha
Kerja sama swap BI dan China ini berpotensi memberikan manfaat besar bagi berbagai sektor bisnis.
Bagi Eksportir
Eksportir Indonesia yang menjual produknya ke China dapat menikmati:
- Biaya transaksi yang lebih rendah.
- Risiko kurs yang lebih kecil.
- Penyelesaian pembayaran yang lebih cepat.
Bagi Importir
Importir yang membeli barang dari China juga memperoleh keuntungan berupa:
- Efisiensi pembayaran.
- Pengurangan biaya konversi.
- Kemudahan memperoleh akses renminbi.
Bagi Korporasi Besar
Perusahaan besar yang memiliki transaksi rutin dengan China dapat mengoptimalkan pengelolaan kas dan treasury mereka melalui penggunaan mata uang lokal.
Peluang Besar untuk UMKM Melalui QRIS Lintas Batas
Salah satu aspek yang paling menarik dari Kerja sama swap BI dan China ini adalah manfaat langsung yang dapat dirasakan UMKM.
Pembayaran Lebih Mudah bagi Wisatawan China
Dengan QRIS lintas batas, wisatawan China dapat melakukan pembayaran menggunakan aplikasi yang biasa mereka gunakan di negara asal.
Sementara itu, pedagang Indonesia menerima pembayaran dalam rupiah.
Hal ini menciptakan pengalaman transaksi yang lebih sederhana dan efisien bagi kedua pihak.
Mendukung Sektor Pariwisata
Daerah wisata yang banyak dikunjungi turis China berpotensi memperoleh manfaat besar dari integrasi pembayaran digital ini.
Kemudahan transaksi dapat meningkatkan kenyamanan wisatawan dan mendorong peningkatan belanja selama berada di Indonesia.
Membantu UMKM Naik Kelas
UMKM yang sebelumnya kesulitan menerima pembayaran internasional kini memiliki akses yang lebih mudah terhadap pasar global.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperluas peluang ekspor dan meningkatkan daya saing usaha kecil Indonesia.
Tantangan yang Masih Harus Dihadapi
Meskipun memiliki prospek positif, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan.
Tingkat Adopsi Pelaku Usaha
Tidak semua perusahaan akan langsung beralih dari dolar ke mata uang lokal.
Banyak pelaku usaha masih terbiasa menggunakan dolar karena dianggap lebih praktis dan telah lama menjadi standar perdagangan internasional.
Sosialisasi dan Edukasi
Bank Indonesia dan pemerintah perlu memastikan bahwa pelaku usaha memahami manfaat serta mekanisme penggunaan LCT dan fasilitas baru lainnya.
Pengembangan Infrastruktur
Perluasan jaringan QRIS lintas batas, peningkatan jumlah penyedia layanan, dan penguatan sistem pembayaran digital menjadi faktor penting untuk mendukung keberhasilan implementasi kebijakan ini.

Dampak Jangka Panjang bagi Ekonomi Indonesia
Jika diimplementasikan secara konsisten, kerja sama swap BI dan China berpotensi memberikan dampak jangka panjang yang signifikan.
Beberapa manfaat strategis yang dapat diperoleh Indonesia antara lain:
- Stabilitas rupiah yang lebih baik.
- Efisiensi perdagangan internasional.
- Ketahanan ekonomi yang lebih kuat.
- Pengurangan ketergantungan terhadap satu mata uang.
- Peningkatan daya saing UMKM dan sektor ekspor.
- Penguatan posisi Indonesia dalam ekonomi regional Asia.
Kerja sama swap BI dan China ini juga menunjukkan bahwa Indonesia semakin aktif membangun berbagai jalur alternatif dalam sistem keuangan global tanpa harus meninggalkan hubungan ekonomi yang sudah ada.
Kerja sama swap BI dan China merupakan langkah strategis yang dirancang untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Melalui penguatan Bilateral Currency Swap Arrangement, perluasan Local Currency Transaction, pembentukan Renminbi Clearing Arrangement, dan integrasi QRIS lintas batas, Indonesia mendapatkan lebih banyak pilihan dalam menjalankan aktivitas perdagangan dan transaksi internasional.
Meski bukan bentuk dedolarisasi penuh, kebijakan ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi yang dapat membantu mengurangi tekanan terhadap rupiah, meningkatkan efisiensi perdagangan, serta membuka peluang baru bagi dunia usaha dan UMKM. Keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh tingkat adopsi pelaku usaha, kesiapan infrastruktur, dan konsistensi implementasi di lapangan.
Sebagai penulis, HALUONE melihat kerja sama ini sebagai langkah penting yang menunjukkan semakin matangnya posisi Indonesia dalam membangun sistem ekonomi yang lebih tangguh, adaptif, dan berorientasi jangka panjang.
Salam hangat,
HALUONE