Pemerintahan Prabowo Subianto menjadi salah satu periode politik dan ekonomi paling banyak diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, mulai dari perang dagang, konflik geopolitik, hingga perlambatan ekonomi dunia, Indonesia justru menjadi sorotan karena dianggap mampu menjaga stabilitas pertumbuhan ekonominya.
Namun, di sisi lain, kritik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah juga terus bermunculan. Salah satu yang paling ramai dibahas datang dari The Economist yang menilai pemerintahan Prabowo terlalu agresif dalam belanja negara dan berisiko terhadap ekonomi serta demokrasi Indonesia.
Lalu bagaimana sebenarnya kondisi ekonomi Indonesia era Prabowo? Apakah Indonesia benar-benar menuju krisis, atau justru sedang membangun fondasi ekonomi baru yang lebih kuat?
HALUONE mencoba membahasnya secara mendalam berdasarkan data ekonomi, kebijakan pemerintah, hingga dinamika global yang sedang terjadi saat ini.
Gambaran Ekonomi Indonesia di Awal Pemerintahan Prabowo
Salah satu indikator paling penting dalam menilai kondisi ekonomi suatu negara adalah pertumbuhan ekonomi. Hingga awal 2026, Ekonomi Indonesia Era Prabowo masih menunjukkan performa yang relatif kuat dibanding banyak negara berkembang lainnya.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Era Prabowo pada kuartal pertama 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara year-on-year. Angka ini menjadi pertumbuhan tertinggi sejak 2022 dan melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya berada di kisaran 5,3 persen.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh beberapa faktor utama, seperti:
- konsumsi domestik yang tetap kuat,
- investasi yang terus meningkat,
- ekspor komoditas,
- serta kebijakan hilirisasi industri yang mulai menunjukkan dampak nyata.
Selain itu, surplus perdagangan Indonesia juga masih terjaga. Neraca perdagangan nasional pada 2025 mencatat surplus hampir USD 50 miliar. Ini menjadi sinyal bahwa sektor ekspor Indonesia masih mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi global.
Cadangan devisa Indonesia juga tetap berada pada level aman. Dengan cadangan devisa lebih dari USD 150 miliar, Indonesia dinilai memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menghadapi gejolak pasar internasional.
Benarkah Pemerintahan Prabowo Boros Anggaran?
Isu paling sering muncul dalam pembahasan ekonomi Indonesia era Prabowo adalah soal belanja negara dan utang pemerintah.
Sebagian pihak menilai pemerintah terlalu agresif menjalankan program sosial dan pembangunan besar-besaran. Namun jika melihat data fiskal secara menyeluruh, kondisi Indonesia sebenarnya masih berada dalam kategori relatif aman.
Defisit APBN 2026 diproyeksikan berada di kisaran 2,68 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini masih berada di bawah batas maksimal 3 persen yang diatur undang-undang.
Sementara itu, rasio utang Indonesia berada di sekitar 41 persen terhadap PDB. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau Jepang, rasio utang Indonesia masih jauh lebih rendah.
Meski demikian, tantangan fiskal tetap nyata. Beban pembayaran bunga utang Indonesia terus meningkat dan menjadi perhatian serius. Pemerintah juga menghadapi tantangan rendahnya tax ratio yang masih berada di bawah banyak negara ASEAN lainnya.
Karena itu, pemerintah mulai melakukan berbagai langkah efisiensi anggaran dan mendorong peningkatan penerimaan negara melalui reformasi perpajakan serta digitalisasi sistem fiskal.
Dalam konteks ini, banyak ekonom menilai bahwa ekonomi Indonesia era Prabowo masih berada dalam fase ekspansi fiskal yang terkendali, bukan kondisi krisis fiskal seperti yang dikhawatirkan sebagian pihak.
Program Makan Bergizi Gratis dan Dampaknya terhadap Ekonomi
Salah satu program paling ambisius pemerintahan Prabowo adalah Program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Program ini menjadi perhatian besar karena membutuhkan anggaran sangat besar. Namun pemerintah melihat MBG bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Tujuan utama program ini adalah:
- meningkatkan gizi anak,
- menekan angka stunting,
- meningkatkan kualitas pendidikan,
- dan memperkuat produktivitas generasi muda Indonesia.
Dalam implementasinya, program MBG juga menciptakan efek ekonomi yang cukup besar. Pemerintah melibatkan:
- petani lokal,
- nelayan,
- UMKM pangan,
- hingga rantai distribusi daerah.
Artinya, dana yang dikeluarkan negara tidak hanya berhenti pada konsumsi makanan, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal secara langsung.
Banyak lembaga internasional seperti World Bank dan Food and Agriculture Organization telah lama menyebut program makan sekolah sebagai investasi sosial dengan dampak ekonomi jangka panjang yang besar.
Karena itu, perdebatan mengenai MBG sebenarnya bukan hanya soal anggaran, tetapi juga soal arah pembangunan Indonesia di masa depan.

Hilirisasi Jadi Strategi Besar Ekonomi Indonesia Era Prabowo
Selain program sosial, kebijakan ekonomi paling penting dalam era Prabowo adalah hilirisasi.
Hilirisasi bertujuan mengubah pola Ekonomi Indonesia Era Prabowo yang selama puluhan tahun terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah. Pemerintah ingin Indonesia tidak lagi hanya menjual sumber daya alam mentah, tetapi juga menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi.
Kebijakan ini terlihat jelas pada sektor:
- nikel,
- baterai kendaraan listrik,
- mineral,
- petrokimia,
- dan industri pengolahan lainnya.
Investasi hilirisasi Indonesia pada 2025 mencapai ratusan triliun rupiah dan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan investasi nasional.
Strategi ini dianggap penting karena:
- menciptakan lapangan kerja,
- meningkatkan nilai tambah ekspor,
- memperkuat industri nasional,
- dan mengurangi ketergantungan terhadap ekonomi berbasis komoditas mentah.
Namun hilirisasi juga memiliki tantangan besar, terutama:
- kebutuhan teknologi,
- transfer keahlian,
- lingkungan hidup,
- serta persaingan geopolitik global.
Meski demikian, banyak analis melihat hilirisasi sebagai fondasi penting bagi transformasi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
IMF dan The Economist Punya Pandangan Berbeda
Menariknya, penilaian terhadap ekonomi Indonesia era Prabowo ternyata berbeda-beda di tingkat internasional.
International Monetary Fund atau IMF justru menyebut Indonesia sebagai salah satu “global bright spot” di tengah perlambatan ekonomi dunia.
IMF menilai Indonesia memiliki:
- pertumbuhan ekonomi yang stabil,
- konsumsi domestik kuat,
- sektor keuangan relatif sehat,
- dan ketahanan ekonomi yang cukup baik.
Namun di sisi lain, The Economist mengkritik beberapa kebijakan pemerintah Indonesia, terutama terkait:
- belanja negara,
- perluasan peran negara dalam ekonomi,
- serta isu demokrasi dan sentralisasi kekuasaan.
Perbedaan pandangan ini sebenarnya mencerminkan perdebatan lama dalam ekonomi global.
Sebagian pihak percaya bahwa negara harus aktif mengintervensi ekonomi untuk mempercepat pembangunan dan pemerataan kesejahteraan.
Sementara pihak lain lebih mendukung pendekatan pasar bebas dengan intervensi negara yang minimal.
Indonesia saat ini tampaknya mencoba mengambil jalan tengah: tetap menjaga pasar dan investasi, tetapi juga memperbesar peran negara dalam pembangunan sosial dan industrialisasi.
Demokrasi dan Stabilitas Politik dalam Ekonomi
Tidak bisa dipungkiri bahwa stabilitas politik sangat memengaruhi ekonomi suatu negara.
Karena itu, isu demokrasi Indonesia juga ikut menjadi sorotan internasional dalam era Prabowo.
Beberapa lembaga internasional mencatat adanya penurunan kualitas demokrasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Namun Indonesia masih dikategorikan sebagai negara demokrasi, bukan rezim otoriter.
Bagi investor global, faktor yang paling penting sebenarnya adalah stabilitas.
Selama:
- kebijakan pemerintah konsisten,
- keamanan nasional stabil,
- iklim investasi terjaga,
- dan pertumbuhan ekonomi tetap positif,
maka investor cenderung masih melihat Indonesia sebagai pasar yang menarik.
Hal ini terlihat dari realisasi investasi Indonesia yang tetap tumbuh cukup tinggi sepanjang 2025.
Indonesia, BRICS, dan Arah Baru Ekonomi Global
Salah satu perubahan besar dalam ekonomi Indonesia era Prabowo adalah arah geopolitik ekonomi yang semakin aktif.
Indonesia mulai memperkuat hubungan dengan negara-negara Global South dan BRICS. Langkah ini dipandang sebagai strategi untuk:
- memperluas pasar,
- mengurangi ketergantungan terhadap Barat,
- serta memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi global baru.
Di tengah tren de-dollarisasi dan perubahan tatanan ekonomi dunia, Indonesia mencoba menempatkan diri sebagai kekuatan ekonomi menengah yang lebih independen.
Hubungan ekonomi dengan China juga terus berkembang, terutama dalam sektor:
- infrastruktur,
- industri,
- energi,
- dan kendaraan listrik.
Namun pemerintah tetap menghadapi tantangan besar untuk menjaga keseimbangan geopolitik agar tidak terlalu bergantung pada satu kekuatan global tertentu.
Tantangan Besar Ekonomi Indonesia Era Prabowo
Walaupun banyak indikator ekonomi terlihat positif, tantangan yang dihadapi Indonesia tetap besar.
Beberapa tantangan utama antara lain:
- beban utang jangka panjang,
- rendahnya tax ratio,
- ketimpangan ekonomi,
- pengangguran,
- serta efektivitas implementasi program sosial.
Selain itu, kondisi ekonomi global juga masih penuh risiko.
Perang dagang, konflik geopolitik, fluktuasi harga energi, dan perlambatan ekonomi dunia dapat memengaruhi ekspor serta arus investasi ke Indonesia.
Karena itu, keberhasilan ekonomi Indonesia era Prabowo akan sangat ditentukan oleh:
- konsistensi kebijakan,
- kualitas tata kelola,
- kemampuan menjaga stabilitas fiskal,
- serta efektivitas reformasi struktural.
Ekonomi Indonesia era Prabowo Subianto tidak bisa dinilai hanya dari narasi politik atau opini media internasional semata.
Data menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki:
- pertumbuhan ekonomi yang stabil,
- cadangan devisa kuat,
- investasi yang terus tumbuh,
- serta transformasi industri melalui hilirisasi.
Program sosial seperti Makan Bergizi Gratis juga menunjukkan arah baru pembangunan yang berfokus pada kualitas sumber daya manusia.
Namun tantangan tetap besar. Pemerintah harus mampu menjaga disiplin fiskal, memperbaiki tata kelola, meningkatkan kualitas demokrasi, dan memastikan seluruh program berjalan efektif.
Pada akhirnya, masa depan Ekonomi Indonesia Era Prabowo tidak hanya bergantung pada satu program atau satu figur politik, tetapi pada konsistensi kebijakan dan kemampuan negara membangun fondasi ekonomi yang kuat untuk jangka panjang.
Semoga artikel ini dapat membantu pembaca memahami kondisi ekonomi Indonesia era Prabowo secara lebih objektif, mendalam, dan berbasis data.
Salam hangat,
HALUONE


Leave a Comment